Meretas Kesenjangan Informasi di Perpustakaan dengan Bercermin pada Gerakan Open Access
Oleh Erwan Setyo Budi
Mahasiswa S1 Ilmu Perpustakaan UNDIP 2011
“Pendidikan itu mestinya berbasis sosialis bukan leberalis.Pendidikan bukan untuk diperjualbelikan melainkan harus disebarkan secara ikhlas sehingga kita semua dapat menikmatinya tanpa harus membayar mahal” (Yanni:2009).
“Pendidikan itu geratis kalau yang dicari adalah ilmu (banyak tersedia di internet),namun pendidikan itu menjadi mahal kalau yang dicari adalah sertifikat,ijazah,dan akreditasi” (Onno W.Purbo:2011)
“Pendidikan itu geratis kalau yang dicari adalah ilmu (banyak tersedia di internet),namun pendidikan itu menjadi mahal kalau yang dicari adalah sertifikat,ijazah,dan akreditasi” (Onno W.Purbo:2011)
Pengantar
Pada abad ke-21 ini merupakan abad perkembangan teknologi informasi yang pesat,banyak kemudahan dan pengaruh yang diberikan kepada masyarakat.Pemanfaatan teknologi komputer dan jaringan sudah menjangkau hampir di seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat.Gaya hidup masyarakat perlahan-lahan akan mengalami perubahan khususnya mengenai kebutuhan informasi.Hal ini dapat kita lihat,masyarakat semakin peka dan kritis terhadap isu-isu sosial,budaya,politik,ekonomi dan hukum.Masyarakat mulai berani menyampaikan pendapat mereka secara sadar dan cerdas.Keberanian masyarakat yang semakin meningkat akan hak dan kewajibannya tersebut telah memposisikan informasi sebagai salah satu kebutuhan utama dalam kehidupan meraka.Maka dengan demikian masyrakat sedang mengalami masa transisi,dari masyarakat yang “melek huruf” ke masyrakat yang “melek informasi”.
Terdapat tantangan dalam mengakses informasi diantaranya masih terdapat lembaga atau instansi yang membatasi akses imformasi dengan alasan “untuk menghormati hak cipta seseorang atau lembaga”,walaupun hal itu digunakan untuk tujuan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat.Bahkan seringkali kita harus membayar biaya tertentu untuk mendapat sedikit informasi.Tentunya hal ini sangat berlawanan dengan apa yang ditawarkan oleh internet bahwa kita dapat secara leluasa mengkases segala jenis informasi yang kita butuhkan tanpa mengenal batas waktu dan tempat.Jarak dan waktu tidak menjadi halangan untuk memperoleh informasi yang disediakan oleh perpustakaan.Internet merupakan sarana paling canggih yang mudah,murah dan cepat untuk menyebarluaskan informasi bahkan sebagai media komunikasi dan bisnis.Disamping itu masih terdapat informasi yang tidak boleh dimanfaatkan oleh masyarakat secara luas.Misalnya,betapa susahnya mengakses skripsi atau tesis dengan teks utuh yang dimiliki oleh perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia,sebuah perguruan tinggi yang nyata-nyata dibiayai oleh negara.Persoalan di atas menunjukkan dua hal yang berbeda,di satu pihak kebutuhan informasi masyarakat semakin meningkat tetapi di pihak lain berbagai informasi masih sulit diakses dengan mudah.Dalam kondisi ini,open access muncul sebagai gerakan yang menginginkan kesetaraan dalam hal mengakses kebutuhan informasi.
Kesetaraan Akses informasi denagn Open Access
Dunia perpustakaan pastilah sangat erat dengan teknologi informasi.Perpustakaan sebagai sumber informasi yang murah ditutuntut untuk menyajikan dengan cepat seiring perkembangan teknologi informasi (TI).TI ini sangat membantu perpustakaan dalam hal pengembangan database,transformasi digital dan promosi dan sebaliknya TI tanpa perpustakaan akan menjadi teknologi yang mandul atau teknologi yang konsumtif.Perpustakaan yang didukung dengan kemampuan TI baik,berpeluang menyajikan berbagai sumber informasi gratis dan berkualitas,seperti open access,untuk diakses oleh masyarakat umum melalui situs perpustakaan.Fenomena open access dapat dilihat dari dua hal:pertama,keberadaan teknologi digital:, dan kedua,akses ke artikel jurnal ilmiah dalam bentuk digital.Internet dan pembuatan artikel jurnal secara digital telah memungkinkan perluasan dan kemudahan akses,dan kenyataan inilah yang melahirkan open access.
Gagasan munculnya gerakan open access adalah 1) meningkatkannya komersialisasi terbitan jurnal ilmiah; 2) keharusan penulis menyerahkan copyright ke penerbit sebelum diterbitkan; 3) keharusan perpustakaan membayar biaya yang semakin mahal untuk berlangganan jurnal cetak; 4) keharusan memperoleh lisensi untuk akses versi elektronik dan 5) pembatalan langganan yang mengakibatkan para pengguna gagal mengakses ke sumber-sumber informasi yang diperlukan (Tedd and Large,2005: 53).Jadi gerakan ini merupakan bentuk perlawanan terhadap pihak-pihak yang menghalangi masyarakat untuk mendapatkan informasi yang disebabkan oleh masalah bayaran,hukum atau teknis.Seiring perkembangan teknologi maka gerakan open access mengalami perkembangan yang pesat.Contoh open access yang dikelola oleh SciELO (Scientific Elecktronic Library Online) merupakan perpustakaan digital yang terdiri dari jurnal-jurnal ilmiah teks utuh yang berasal dari negara Brazil,Amerika Latin,Karibia yang kemudian diterbitkan di Portugis,Spanyol dan Inggris.Contoh lain adalah DOAJ (Derectory of Open Access Journals) yang menyediakan sumber-sumber informasi open acces yang berasal dari berbagai sumber di seluruh dunia.Sumber ini dapat diakses di http:/ /www.doaj.org
Penutup
Menyadari besarnya manfaat yang dapat diperoleh masyarakat melalui gerakan open access,maka sudah waktunya gerakan ini mendapatkan dukungan dari seluruh elemen penyedia informasi khususnya perpustakaan.Keterlambatan merespon gerakan ini akan mengakibatkan perpustakaan terbelakang dalam dunia yang berkembang makin pesat dan makin maya ini.Peran perpustakaan seharusnya sebagai penyebar informasi ke masyarakat seluas-luasnya untuk pengembangan ilmu pengetahuan,teknologi,seni dan budaya sehingga perpustakaan menjadi sangat relevan di era keterbukaan informasi ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar